Minggu, 29 Desember 2013

====== MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA ====== Oleh: Kafil Yamin

==========================
Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.
Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia.
===============================



====== MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA ======
........................................... Oleh: Kafil Yamin. ...............................................


Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.
Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.
Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?
Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.
Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.
Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.
“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.
Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.
“Panggil saja saya Laffae,” katanya.
“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.
“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.
Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.
Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.
Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.
“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.
“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”
Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.
Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.
Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.
Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.
Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.
Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.
Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.
Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!
Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.
Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.
Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.
Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.
Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.
Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.
Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:
“Kafil, we can’t run the story,” katanya.
“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.
“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.
“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.
“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”
“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”
“I think we still can run the story but we should change it.”
“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.
Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.
***
Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.
Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.
Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.
“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.
Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”
Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.
Pagi 30 Agustus 1999.
Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.
Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.
Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.
Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.
Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.
Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.
Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.
Selepas magrib, 30 September 1999.
Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.
Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.
Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.
Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.
Pagi, 4 September 1999.
Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.
Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.
Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.
Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.
“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”
Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”
Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.
Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.
Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.
“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.
“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.
“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.
“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.
“Kita akan usahakan,” kata Armindo.
Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.
Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.
Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.
Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00,
saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.
Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.
Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.
Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.
Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.
Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.
Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.
Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.
Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”
Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.
Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.
Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.
***
Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.
Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.
Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.
Sore, 7 Novembe3, 1999,
saya mendarat di Jakarta.
Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.
Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.
Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.
Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.
Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.
Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.
Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.
***
12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.
Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.
Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.
Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?
Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun.
KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.
Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.
SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG.

Sabtu, 28 Desember 2013

Ku Memanggilmu

Tinta telah kering
Namun tidak dengan rasa
Apa kau ragu dia tak mampu berbahasa melalui jiwa

Airmata….tinta…kertas adalah bejana
Namun bukan hanya dengan itu kau hanya bisa bersuara
Aku yakin ada

Ku memanggilmu tuk bernyawa
Walau aku hanya mendengar detak sa(ha)ja
…………..
Rhany,mks
12/12/13

Rindu

Rindu…
Rindu…
dan rindu
Tak seorangpun mampu membunuhnya
Tidak juga dirimu…
dirinya…
atau siapa
Tiada dosa dengan merindu
Semoga kau menikmati detik demi detik rasa itu

Rhany,mks
12/12/13

Dia PAsti Datang

Tiktok Tik-tok Tik Tok
Waktu terus berdentang
Akankah dia berhenti ....
Ku yakin
Dia pasti datang

Tiktok Tik-tok Tik Tok
Yang pergi berganti terlahir kembali
Awal dan akhir silih berganti
Terus....
Terus....
Dan terus bergulir

Rhany,mks
18/12/13

Dosakah...?

Dengan apa ku ganti tawaku dengan tangisan
Bagaimana ku pulangkan bahagiaku pada kesedihan
Di manakah ku simpan rasaku yang tak terhalang
Bila yang ku lakukan ini dosa....
Maka do'akan aku bahagia
Karena.....
Rasaku
Rasamu
Serupa yang tak pernah sama

rhany,mks
18/12/13 rev 22/12/13

Untukmu yang Tenggelam dalam Pilu

Seharusnya.....
Kau genggam pelangi itu disaat bias cahaya mentari akan merenggutnya darimu
Bukan hanya sekali
Namun terus....
Dan terus jangan kau ingkari

Seharusnya....
Tak hanya kau eja nama itu dalam heningnya malam bersama desahan sang bayu
Namun....
Semat dan tulis dalam bingkai prasasti hati dan letakkan dalam ruang tersendiri

Seharusnya....
Penantianmu menjadikan rindu terindah dan sakit yang menggenang
Bagi hatimu saat ini
Pun akan datang

Dan seharusnya.....
Semua tetaplah menjadi kenangan diantara sekian masa perjalanan hidup
Tuk menjadikanmu lebih mencintai cinta

Rhany,mks
24/12/13

Jumat, 27 Desember 2013

Cinta Dalam Rindu (2008)

diantara sedih dan tangismu
doa tulus melantun pilu
bahagia akan menyambutmu
jika kau mau sabar menunggu

rindu dan cinta bersemayam dihati
semua itu tak akan pernah mati
bila dirimu bisa tetap berdiri
yakinkan diri kau tiada sendiri

disana dia pun sedih melihatmu
yang tak ikhlas melepas rindu
dan selalu dirundung pilu
bangkit....semangatlah....demi dia yang kau tunggu

rhany,mks
2008

Taman Persajakan (2008)

Taman persajakanku penuh….
Hujatan
Makian
Penghapusan
Konspirasi edan

Dimana lagi rasa…
Cinta
Damai
Sayang
Persahabatan

rhany,mks
16/09/08 ; 12.42

Y!A Rumah kita (2008)

Rumah ini rumah kita
Tempat kita berbagi suka duka
Menumpahkan asa dan cerita
Berbagi kisah dalam rasa

Rumah ini rumah kami
Segala sesuatu tertuang disini
Melihat dunia disegala sisi
Merasakan segala hal bisa terjadi

Aku lahir dirumah ini
Aku dewasa dan besar disini
Dan ku ingin tetap disini
Hingga aku benar-benar mati

rhany,mks
(16/04/08)

Aku Tahu (2008)

Kau menemaniku....aku tahu
Kau menjagaku.......aku tahu
Kau mencintaiku.....aku tahu
Kau menungguku…akupun tahu

Walau kau tak disisi
Ku tahu kau menemani
Meskipun dirimu beradu dengan waktu
Ku tahu kau setia menungguku

Rasa sayang,cinta dan rinduku
Meskipun terhalang ruang dan waktu
Walaupun kita tak bertemu
Ku tahu kau tetap menemaniku

rhany,mks
15/04/08

Tanda Tanya

mengapa aku mengenal kebencian
sedangkan aku memiliki cinta
kenapa ku dipertemukan dengan kecurigaan
bila aku dituntut memberikan kedamaian
aku berharap ini bukanlah permainan
dimana aku sebagai boneka tunggal

#apapunitumemilikiarti

01:14,mks
27/12/13
rhany

Kamis, 26 Desember 2013

KATA (2008)

Kata sebagian dari jiwa
Merangkai kata tiada salah
Walau dunia hanya mencerca
Menambah kelam jiwa patah

Merayulah selagi kau mampu
Mengadulah selama kau butuh
Terluka adalah penyemangat untuk maju
Cobalah......keluarkan semua keberanianmu

Jangan takut untuk berkata
Jangan bimbang didunia maya
Teruslah semangat untuk berkelana
Yakinlah kau pasti bisa

rhany,mks
(11/04/08)

"HAPPY BIRTHDAY MANIZKU" (2008)

Hallo Maniz…..
Tak Terasa Usiamu Tlah Bertambah
Tak Terasa Kaupun Semakin Dewasa
Semoga Di Hari Yang Indah Ini Kau Lebih Bahagia

Di Saat ini…….
Do’a Apa Yang Kau Panjatkan….?
Hal-hal Apa Yang Kau Harapkan……?
Dan Perasaan Bagaimana Yang Kau Inginkan……?
Dalam Perenungan & Introspeksi Diri Yang Telah Kau Lakukan
Semoga Allah SWT Mendengar Dan Mengabulkan…..!

Selamat Ulang Tahun Maniz…..
Semoga Di Usiamu yang Semakin Bertambah
Dalam Segala Hal Kaupun Semakin Dewasa
Dalam Menggapai Segala harapan, Cita & Cinta….

02/05/08
Beauty rhany

Congratulation (2008)

hari yang ditunggu telah tiba
saat kau menyandang predikat sarjana
walau dilalui dengan tiada mudah
tapi kepuasan tersendiri tetaplah ada

kini....
saatnya meninggalkanku telah tiba
meninggalkan semua aktifitas yang ada
mengisahkan kenangan-kenangan indah
dan melangkah demi harapan dan cita-cita

selamat jalan wahai kakandaku
melangkahlah kekehidupan yang lebih maju
harapanku kau tetap adanya dirimu
dalam suasana dan kehidupan baru

ku pinta kau ingat harapanku
untuk tidak melupakan diriku
biarkan bayanganku berada di kehidupanmu
sampai waktu membawaku bersamamu

sekali lagi....
ku ucapkan selamat untukmu.....

rhany,
mksr 24/04/08

"Tatapan Cinta"

Pernahkah kita menatap orang-orang terdekat kita saat ia tidur? kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayahanda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.Beliaulah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah ke ibunda.Hmm....kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Beliaulah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Yang paling rajin mengingatkan dan mengomelin kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya dan itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu....ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat...Semuanya orang-orang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan kita. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata : " Betapa lelahnya aku hari ini" dan menyebab lelah itu ?.....juga untuk siapa dia berlelah-lelah?

Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Renungan untuk kita semua.....

Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah - wajah mereka...rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua....bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu tak membuka matanya...selamanya!"

Selamat Untukmu Resa (2007)

hari ini...
bertambah sudah hikmah dan rahmat yang kau terima
dan hari ini....
berkurang pula waktu menambah amal ibadah
sebelum masa berakhir tiba
selamat....
semoga asa,cita dan cinta segera tercapai
dan semua hal itu...
tidak menjadikanmu buta dan tuli
atas segala rasa yang ada
karena masih panjang dan terjal
perjalanan didepanmu
perjalanan yang sewaktu-waktu
dapat merubah dirimu

Happy birthday friend
although I am [there] no beside.
be confidence that prayer, love and darling there will be to you.
and don't have forgotten I.
resa.....
hopefully our friendship [is] endless.
hopefully you progressively adult, beautiful and more and more the success of world and akherat...amin

Rhany
2007

Aku masih mencarimu

aku masih mencarimu
ditemani bayu memanggul rindu
dan selaksa memori menggelayut pilu
mengapa hanya kau yang bercahaya
apakah itu bias warna
atau hanya pantulan mata
hingga
ku dengar deru ombak memburu
dan ku lihat
hanya awan dan awan
tak kujumpai lautan
entah dia bersembunyi
atau menghilang

aku masih mencarimu
ditemani bayu memanggul rindu
dan selaksa memori menggelayut pilu
........

rhany,mks
14/03/13 rev 15/12/13

menguntai rasa

Rasa tak berujung
Cinta tak bertepi
Pasrah pada ikatan bayu
Bercerita sekumpulan debu
Dan menitiklah airmata ombak yang membisu

Rhany,mks
24/10/13

Menyatukan Satu

Satu
Satu
Satu
Tidak terpaut

Satu, satu, satu
Tidak bernilai

Satu…satu…satu
Mengapa tetap ku paksa

Ya
……
Ku amin kan

Rhany,mks
06/10/13

Apa kau bisa merasakan....

Nyeri ini menutupi pahit
Ku sudahi
Ku selesaikan
Sampai
……
Di sini

Rhany,mks
04/09/13

Pesta Pora Para Kurawa

Wahai para raja diraja
Bertahta di singgasana malapetaka
Menyerukan pesta pora bratayuda

kau hidangkan di meja bertahta berlian
terbungkus tudung saji sutra
dan di jamu dalam piring emas
itu bangkai kami yang kau makan

walau kau berteriak…..
aku mau yang paling enak
kualitas wahid tanpa cacat
yang termahal dan bebas kuman
tetaplah…
itu bangkai kami yang kau makan

selamat…..
kau bahagia bermandi darah
bergembira dalam tumpukan air mata

rhany,mks
29/09/13

Mengapa.....

tak cukup 1
mengapa....


rhany,mks
29/09/13

Ku.......

Ku tak ingin berhayal.....
Waktu berputar kembali ke masa lalu
Dan ubah diri menjadi yang ku mau

Ku selalu berharap.....
Tak menyesal dengan segala keadaan
Terus melangkah dan berjalan

Ku ingin nyata.....
Menjadi lebih baik walau tak sempurna
Memberi hal indah bagi semua yang tercinta

rhany,mks
21/09/13 rev 29/09/13

Mencoba dari Nol.....

ku mulai dengan ragu
apakah aku mampu
entahlah....

ya...
mengapa tidak ku awali saja
dengan .

hai.....
ada yang mengikuti,
memang sih....
terlihat samar
namun
ku yakin
ku tak akan sendiri

kau....
ya, kau.....
kau siapa

sudahlah....
yang penting ku tak sendiri lagi
ada kau yang menemani

rhany,mks
27/09/13

Aku dan Dirimu...

aku....
apakah kau tak mengenalku
dengan mencari keberadaanku

tidak perlu berubah untuk menjadi aku
cukup menjalani sebagaimana mestinya dirimu
tidak berpura-pura karenaku
mengacuhkan kelebihan diriku
atau menyanjung kekuranganku

aku....
aku tetaplah aku
tak berubah menjadi dirimu
atau menjadi mereka

rhany,mks
26/09/13

aku masih mencarimu (2013)

aku masih mencarimu
ditemani bayu memanggul rindu
dan selaksa memori menggelayut pilu
mengapa hanya kau yang bercahaya
apakah itu bias warna
atau hanya pantulan mata
hingga
ku dengar deru ombak di awan
namun yang ku lihat
hanya awan dan awan
tak kujumpai lautan
entah dia bersembunyi
atau menghilang

aku masih mencarimu
ditemani bayu memanggul rindu
dan selaksa memori menggelayut pilu
........


rhany,mks
14/03/13

permainan rasa (2010)

Wahai rasa....
Tetaplah bersamaku
Bermain dan bercanda
Berkelahi dan bertukar amarah

Duhai rasa....
Jangan pernah tinggalkan diriku
Jangan pernah kau selingkuh dari hatiku
Atau membunuhku dari dirimu

Berawal dari rasa…
Ingin ku tuang dalam kata yang bermakna
Sehingga tegukkannya dapat menyegarkan jiwa
Dan melepaskan dahaga raga

Rhany mks,
08/01/10

Waktu... (2009)

adakah yang bisa menghentikannya
mampukah kita menghalangi lajunya
karena...
dia akan tetap melangkah
dia tetap berirama
sampai pemiliknya meniadakannya

rhany mks, 11/10/09

Jeritan Sang Dewi Cinta (2009)

Inilah nasib sang dewi cinta
Harus menjerit tuk kesekian kalinya
Demi cinta
Karena cinta
Cinta…
Dan cinta

Hati beku
Rasa membiru
Semua bisu
Dalam gelap hati yang pilu

Bilaku bermain rasa
Saatku menggoda cipta
Kulakukan karena cinta
Cinta….
Cinta yang menjadikanku gila
Gila……
Gila tuk menjeratmu
Gila tuk mempermainkanmu
Gila tuk menyakitimu

Gilaa….
Cintaa…
Gilaa…..
Jeritku tak bernyawa
Jeritku tiada terasa

Rhany,mks
13/08/09

Segala Sesuatu Adalah Petunjuk-Mu (2009)

Alif La Mim...
awal dan akhir adalah kehendak-Mu
Apapun yang tiada ku tahu adalah rahasia-Mu
Segala sesuatu adalah petunjuk-Mu

Ya Allah....
atas kalam-Mu aku mencari-Mu
dengan imanku aku menuju-Mu
bimbinglah aku dengan segala kekuranganku
hingga kurasakan cinta hakiki dari-Mu

rhany,mks
24/04/09

Cinta II (2006)


Terima kasih atas segala cinta yang kurasa
Terima kasih atas segala cinta yang membuatku lebih dewasa
Dari segala jenis cinta
Dari sebesar dan seluas apapun cinta
Cinta “Sang Khalik”lah yang paling sempurna

Sekali kita mencintai-Nya
Selamanya “Ia” mencintai kita
Walaupun kita selingkuh dari cinta-Nya
Walaupun kita melupakan-Nya
Ia tetap mencintai dan menjaga kita

Bentuk dan cinta “Sang Khalik” sangatlah sempurna
Ia tak pernah menyakiti dan melukai
Ia tak pernah mengharapkan imbalan
Ia mencintai dengan hati
Dan Ia mencintai melihat dari hati

Dan bila “Sang Khalik” mengizinkan aku untuk selingkuh dari cinta-Nya
Ku ingin Ia yang menunjukkan seseorang yang dapat kucintai
Karena kutahu Ia begitu mencintaiku
Dan apa yang dipilih oleh-Nya adalah yang terbaik untukku
Dan pilihan-Nya mengerti jika aku lebih mencintai cinta pertamaku
Dan seseorang itupun harus bisa untuk mencintai-Mu
Lebih besar dari rasa cintaku pada-Mu

Rhany, mks
03/02/06

Cinta I (2006)


Cinta adalah suatu misteri 
Cinta adalah bentuk dari suatu rasa
Cinta bagaikan udara
Yang tak dapat dilihat,raba dan didengar
Namun hanya dapat dirasakan saja

Cinta itu indah
Cinta itu sejati
Cinta itu anugerah
Namun sebesar apa cinta kita terhadap sesama
Sebesar apa cinta kita terhadap lawan jenis
Dan sebesar apa cinta kita terhadap yang menciptakan kita

Cinta membuat kita tertawa dan gembira
Cinta membuat kita menangis dan merana
Seindah apakah bentuk cinta itu
Sebesar apa cinta mereka terhadap kita
Bila dibandingkan cinta “Sang Khalik” terhadap kita

Rhany, mks
03/02/06

"Apa arti diriku bagimu...." (2008)

Tanda tanya
rhany,mks
30/12/08

"Main Hati" (2008)

Seribu rasa terhempas….
Indah
Suka
Takut
Marah
Cemburu

seribu rasa terhempas.......
Diantara bayang cadas
Membentuk sketsa samar
Ditaman penuh semak belukar

Tebar sayang
Sembunyikan cinta
Diantara kupu2 dan bunga

aku terlalu dalam menyelam
mencari permata berduri
diantara mutiara disisi bumi

rhany,mks
30/11/08

"Tanpa Kepastian" (2008)

Ketika cinta dibutakan nafsu dan jabatan
Adakah aku diperbudak kesetiaan
Menjadikan pengorbanan tak berkesudahan
Hingga tanya panjang tak terjawabkan

Asa menghampiri ajak ku berdansa
Saat kau lagukan cinta tanpa kepastian
Hingga tanya hanya sebatas harapan
Dan kau diam tanpa bisa berkata

rhany,mks
01/05/08

"Untuk Yang Selalu Dirundung Duka" (2008)

Aku ingin dirimu yang dulu……cinta
Yang selalu ceria dan bahagia
Selalu ada senyum dan canda
Tak peduli ada badai atau gempa
Kau selalu membawa angin suka cita

Mengapa tak kau bagi lukamu
Hingga berkurang beban dan penatmu
Atau dirimu tak mempercayaiku
Bahwa selama ini aku menyayangimu
Dan bersedih atas segala deritamu

Cinta…
Dia mampu membalikkan dunia
Namun bukan berarti menjadi musnah
Karena bukan hanya dari pandang mata
Manis dibibir merekah
Atau terdengar indah ditelinga

Cinta…
Bukan hanya milik
Seorang….
Sebuah…
Seikat…
Sebentuk….
Seekor….
Secuil…
Setetes….

Namun
Cinta itu milik…
Semua……

rhany,mks
17/11/08

Congratulations 2 (2008)


Saat seminar kau berusaha tegar
Saat ujian meja kau tampak sabar
Walaupun seusai yudisium kau mengalirkan air mata
Namun ku tahu dan percaya…..
Air mata itu adalah air mata bahagia

Selamat sobat….
Selamat menyandang gelar sarjana
Selamat untuk bersaing di dunia yang berbeda
Walaupun ku tahu itu bukanlah hal yang mudah

Masyarakat menantimu
Negara membutuhkanmu
Untuk kau mengaplikasikan segala ilmu
Dan buktikan padaku….
Ini adalah hal yang kau tunggu

Sobat…
Hidup di luar tidaklah mudah
Terjun ke masyarakat bukalah hal yang megah
Tapi keindahan pastilah tercipta
Meskipun dalam bentuk yang berbeda

Sobat….
Kenanglah kebersamaan kita
Ingatlah persahabatan kita
Ku tahu kita akan jarang berjumpa
Karena perbedaan ruang dan masa

Sobat….
Ingatlah….
Selamanya kita tetap sahabat

Rhany,mks
2000 revisi 27/10/08

Dalam Maya dan Nyataku (2008)

Dalam Maya dan Nyataku

Dari dunia maya aku mengenalmu
Dan...
Dalam dunia nyata ku ingin meminangmu
Dan itu bukanlah bualan
Karena cinta tak mengenal batasan

Duniaku hanya satu
Yaitu.....Kamu
Karena hanya kamu
Dalam maya dan nyataku

20/10/08

Saat Kau Katakan....... (2008)

Saat Kau Katakan.......

jangan lagi ada derai airmata kepedihan
saat itu pula kau buat luka terdalam
hingga air mata kepedihan membuatku tenggelam

aku adalah mata untuk melihat sekitarmu
aku adalah kaki untuk menuju harapanmu
aku adalah tangan untuk menggenggam cita-citamu
aku adalah hati untuk segala rasamu

aku adalah dirimu
deritamu adalah sakitku
ceriamu adalah bahagiaku
hidupmu adalah semangatku

kuucapkan terima kasihku padamu
karena aku adalah dirimu

rhany,mks
21/07/08

Hymne Persahabatan (Puisi Kolaborasi) (2008)

Gemintang menaburkan buih cinta
Hingga terbentuk kekuatan hati
Kepalkan persahabatan tanpa kata
Bahagia kita dendangkan melodi
(favo)


Dengan jabat yang pernah kau eratkan
Sudilah semaikan kasih dijengkal hatiku
Meski tak sua kita merajut cerita
Satukan persahabatan yang pernah melagu
Didadaku..

Sebagai hymne jiwa yang menderu kalbu (maniz)

Sekian senja kurakit bersama
Sebilah rumput kusemat selalu
Bersila antara dekap udara
Diantara riangnya arti bersatu
(vals)


Andai bisa kau hitung bintang
Sebanyak itulah rasa cintaku
Tak akan goyah diterjang gelombang
Tetap kokoh dalam rasa menyatu
(rhany)


Rerumputan ikut mengiringi canda
Bersama rasa kita kayuhkan cerita
Mega memberi harapan di angkasa
Abadilah persahabatan dalam KasihNya
(
cah@ijo)

11/11/08

DUNIA (2008)


DUNIA

Aku tidak menjanjikan kesetiaan
Aku hanya memberikan keindahan
Karena itulah aku ditakdirkan
Untuk membuatmu ingat akan Tuhan

Kesetiaan hanya milik penciptaku
Dari sanalah asal keberadaanku
Berakhir dan kembali menjadi debu
Karena diriku adalah semu


rhany mks, 17/04/08

Taman Persahabatan (2008)


Taman Persahabatan
 
Indahnya taman ini karenamu
Yang selalu memberikan irama
Semerbaknya baunya karena sentuhanmu
Yang tiada henti menabur nuansa

Untaian kata yang bermakna
Puisi persajakan yang menyapa
Dengan penuh canda dan cinta
Dalam wahana segala rasa

Terima kasih atas cintamu
Terima kasih atas kasihmu
Terima kasih atas rindumu
Karena kalian adalah sahabatku


rhany mks April 08

Terima Kasih Kami Para Anak Jalanan (2008)


Terima Kasih Kami Para Anak Jalanan
 
kak.....
terima kasih tuk perhatianmu
terima kasih tuk simpatimu
ku tahu....
kau ingin selalu berbagi kasih padaku
kau ingin kurangi deritaku

kak....
jangan tinggalkan aku
jangan lupakan aku
walau hanya sedikit waktu
untuk melihat dan menyapaku

kak.....
lelah dan derita tiada ku rasa
bila kau datang membawa cinta
sakit dan perih tiada ku peduli
bila kau masih mau memandang diri ini

kak...
terima kasih untuk sayang dan cintamu
terima kasih untuk semua bentuk perhatianmu
karena itulah semangat buatku
untuk tetap hidup dan terus maju
hingga nanti akupun bisa sepertimu

rhany,mks 29/04/08

SOSOK SANG BAYANG (2008)

Jalan gelap tak bertulang
Tersekap malam gelap memanjang
Terlihat tarian sesosok bayang
Menahan cahaya bulan bertandang

Hantu malam temani sang bayang
Menari sendiri ditepian jurang
Wajah muram melekat cemberut
Tontonkan tulang kulit keriput

Jemari tulang panjang berjajar
Layaknya jemari dahan-dahan mawar
Kaki kecil sang bayang bergetar
Menahan cercaan yang terpancar

Sang bayang korban kejamnya jaman
Menyudutkan dalam kesalahan palsu
Gantungkan jiwanya disudut kota miskin
Menyihirnya menjadi sahabat hantu


rhany, mksr (05/06/08)
Spesial thanks for : Val's atas ide dan segala bantuannya

KELEMAHANKU (2008)

Dalam kebesaran-Mu ku tak bisa berkata
Dalam keagungan-Mu ku berserah pasrah
Dalam karunia-Mu ku tumpahkan asa
Dalam rahmat-Mu ku tak memiliki amarah

Dihadapanmu ku bersimpuh luluh....
Ku bersyukur atas semua karuniamu....
Ku bertobat atas semua dosaku....
Ku berharap ridho-Mu untukku....

Ku mengadu bukan karena kecewa...
Ku berkeluh bukan karena marah....
namun karena ingin tumpahkan asa...
hanya pada-Mu ku bisa bercerita....

Ya Allah...
maafkan hambamu yang selalu mengadu....
karena hamba merasa tak mampu....
maafkan hambamu yang selalu bertanya....
karena Kau-lah maha segalanya....

Bersama jubah kusut tawakal-ku.....
Ku hanya berserah pada-Mu


rhany,mks 18/04/08

KEBAHAGIAAN dan KEPEDIHAN (2006)

apabila ada seseorang yang bergembira saat ini
aku turut merasakan kebahagiannya
dan apabila ada yang berduka sekarang ini
akupun merasakan kepedihannya


kebahagiaan dan kepedihan
adalah bumbu kehidupan
kau tidak akan bahagia
bila tak merasakan kepedihan
kau tak tahu kepedihan
bila tak rasakan kebahagiaan
maka bersyukurlah karena bisa merasakan


Tuhan maha adil atas segala kehendak-Nya....


bila seseorang pergi maka akan ada pengganti
dan bila ditinggal mati maka akan ada yang lahir kembali
begitupun kepedihan dan kebahagiaan yang menghampiri
bukan hanya bagian dari mimpi
namun merupakan bentuk realiti


rhany,mks 2006

PERI TAK BERNURANI (2008)

Sapaan sadis laknat menghujat
Mengalir deras tanpa sekat
Pembenaran diri selalu mencuat
Membentengi hati yang telah cacat

Wahai setan berwajah peri
Terbuang kemana secuil nurani
Masih adakah sejumput hati
Di jiwa yang telah mati


rhany,mksr 13/04/08

Dunia Maya (2008)

Tiada yang salah dalam dunia maya....
Yang kadang menghentikan aliran darah dan deguban jantung.....
Tiada yang salah dalam dunia maya.....
Yang kadang membawa pikiran kepada hati dan menjadikannya melayang....

Karena itu adalah imajinasimu.....
Saat kau belum menemuinya....
Karena itu adalah khayalanmu...
Saat kau belum melihatnya.....

Kenali dia dalam dunia maya....
Dimana kau dapat berimajinasi....
Temui dia dalam dunia nyata....
Disaat kau sudah berhenti bermimpi...


Rhany
27/03/08

LELAH (2008)

Malam telah hadir menghampirimu
Membawamu kedalam dunia mimpimu
Mengarungi indahnya alam sadarmu
Hingga hilang lelah ragamu

Wahai dinda yang lara
Apa yang membuatmu sengsara
Mengapa dirimu tak berdaya
Dalam malampun masih terjaga

Pejamkanlah mata indahmu dinda
Bermainlah dengan segala rasa
Dalam mimpi yang tercipta
Penuh cinta kebahagian jiwa

Rhany,
28 maret 2008

"PENGELANA" (2008)

wahai jiwa jiwa pengembara
yang hadir sebagai pengelana
mencari menebak misteri dunia
dalam tautan secercah cahaya

jangan pernah kau jera
karena jiwamu jiwa pengembara
jangan pernah kau gerah
hingga membuatmu merasa pasrah

rupa itu adalah rupamu
meskipun semua mata menatapmu
wajah itu adalah wajahmu
walau sedikit celah untukmu

raga itu amanat untukmu
nyawa itu hadiah bagimu
keelokan itu asesoris jasadmu
semua itu adalah dirimu


Rhany,mks
28/03/2008 

FEBRUARI (2008)

Diantara 12 bulan dari Januari sampai Desember.....bulan Februari yang selalu membuat kesan

Dbulan itu aku & adikku berulangtahun, dbulan itu pula ayahku meninggal.....

Dan khusus dtahun ini.....pada bulan itu pula aku merasa sedih & bahagia......

Disaat aku mendapatkan sesuatu.....dsaat itu pula aku kehilangan sesuatu......

Aku Ingin Bahagia (2008)

Apa aku tidak boleh mencintai yang aku pilih
Apakah aku harus memberi alasan kenapa aku memilih dan mencintai
Apakah yang harus aku buktikan kalau aku benar-benar mencintai
Dan bagaimana cara aku untuk membuktikan kalau aku benar-benar mencintai
Masa tiada yang abadi
Begitu pula dengan diriku
Ku ingin sisa masa yang ada
Aku bisa bahagia

rhany,mks
11/02/08

DIA DI MATA AKU (2008)

Dia seorang eyang yang penyayang
Dia seorang bapak yang sabar....dan
Dia seorang pemimpin yang tegas dan bersahaja

Dimata aku.....
Dia salah satu orang didunia ini yang mampu merubah suatu negara
Dia salah satu orang yang tidak biasa

Banyak orang yang menghormatinya
Banyak orang yang mengaguminya
Banyak orang yang mengidolakannya
Dan adapula yang tidak menyukainya

Dia tetap manusia biasa....
yang mempunyai kekurangan, khilaf, salah dan dosa
Sama seperti kita semua

Dia mampu memimpin negara ini
Dia mampu merubah negara ini
Dia mampu membawa nama negara ini
Apakah sama seperti kita semua.........?




MAAF (2007)

MAAF
WAKTU MENGALIR BAGAIKAN AIR
RAMADHAN NAN SUCI PUN TLAH BERAKHIR
ADA LUKA YANG MEREBAK
ADA KHILAF YANG SEMPAT TERBUAT
YA ALLAH......
AMPUNI DOSA-DOSA HAMBAMU INI
AYAH, BUNDA........
MAAFKAN SALAH & KHILAF ANANDA
TEMAN, SOBAT DAN HANDAI TAULANKU.......
MAAFIN CARA BECANDA YANG MENYAKITI HATIMU
BERIBU BAHKAN BERJUTA MAAF KUPINTA DARI SEMUANYA
ATAS SEGALA SALAH & KHILAF YANG KUPERBUAT
DAN DENGAN SEGALA KERENDAHAN & KETULUSAN HATI
AKU BERUCAP :
TAQABBALLAHU MINNA WAMINKUM
MINAL AIDHIN WAL FAIDHIN
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN
SELAMAT IDHUL FITRI 1428 H

1 SYAWAL 1428 H (2007)

1 SYAWAL 1428 H



BEDUK TLAH BERTALUH..........
TAKBIR PUN BERKUMANDANG.........

ALLAHU AKBAR........
ALLAHU AKBAR........
ALLAHU AKBAR........
ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM........

AKU MENYEBUT NAMAMU YA.....ALLAH
AKU MENYEBUT ASMAMU
SUNGGUH.....
TIADA SUARA SEINDAH BEDUK
TIADA KATA SEMULYA TAKBIR

TIADA TERASA........
SYAWAL TLAH DATANG......
DAN RAMADHAN PUN BERLALU.....

SEMOGA AKU MASIH MENDAPAT RAMADHAN DAN SYAWAL MENDATANG......


MARHABAN YA RAMADHAN (2007)

MARHABAN YA RAMADHAN
Subhanallah........umurku mampu mencapai bulan ini
Alhamdulillah.....aku bertemu lagi dengan Ramadhan
Alhamdulillah.....aku rasakan lagi nikmatnya berpuasa
Lailahailallah.......hanya Engkaulah ya Allah yang berkuasa atas segalanya
Allahu Akbar......segala puji bagimu ya Allah
Tak ada kata-kata yang mampu tergantikan
Atas besar yang melebihi dunia ini segala berkah dan nikmat yang telah Kau berikan
Melebihi luasnya lautan ini ampunan dan kasih-Mu yang Kau limpahkan
Marhaban ya Ramadhan.......
Marhaban bulan penuh berkah, rahmat, ampunan dan cinta........
Salah satu bulan yang selalu ditunggu dan dirindu........


MERDEKA (2007)




MERDEKA



62th sudah negeri kita merdeka

62th sudah negeri kita bebas dari penjajah
penjajah negeri yang tentunya bukan dari anak negeri ini
penjajah negeri yang tentunya tidak memiliki hati nurani
tapi..........
apakah saat ini negeri kita benar-benar telah merdeka
apakah saat ini negeri kita benar-benar bebas dari penjajah
kita merdeka tetapi tetap menderita
kita tidak dijajah tetapi tetap tidak aman
padahal kita hidup di negeri yang telah merdeka
penjajahan itu masih ada
kemerdekaan itu tidak sepenuhnya nyata
dan semua itu adalah bentuk realita
realita dari wajah negeri yang merdeka

Rhany, mksr
21/08/2007